Ketika langit senja memancarkan cahayanya
Mulai turun, lalu tenggelam
Ketika itu pula senyumnya redup seketika
Tak ada rintih yang kudengar
Tak ada tawa yang menggelegar
Tatkala senja biasa diiringi tawa
Perjalanan kini hanya ada wajah muram
Dan rasa geram
Penuh kecewa
Waktu begitu lancang mempertemukan kalian
Tak ada yang kututupi, Tuan
Semua itu tak perlu kuumbar
Puan tak sebaik itu bisa menjaga;
Rasamu yang menggebu
Apa lagi yang ingin kau dengar?
Semua kesemuan itu terlalu nyata
Bahwa tak ada lagi dia untuk kudamba
Minggu, 22 Oktober 2017
Rabu, 18 Oktober 2017
Senja Bersamamu
Waktu dimana matahari menghilang
Di bawah garis cakrawala di sebelah barat
Yang ada hanya bayang bayang
Dan tubuh yang mendekat
Aroma tanah yang basah diguyur hujan
Beradu dengan aroma tubuhmu
Bersama candaan sepanjang jalan
Aku menegakkan hati yang tak lagi mampu
Kikuk gerakku
Pertanyaan terus menggerayangi
Apa benar aku tak lagi bersedu?
Dan hati ini dapat membuka diri?
Senja kini
Menjadi saksi bisu
Antara rasa yang tak lagi semu
Di bawah garis cakrawala di sebelah barat
Yang ada hanya bayang bayang
Dan tubuh yang mendekat
Aroma tanah yang basah diguyur hujan
Beradu dengan aroma tubuhmu
Bersama candaan sepanjang jalan
Aku menegakkan hati yang tak lagi mampu
Kikuk gerakku
Pertanyaan terus menggerayangi
Apa benar aku tak lagi bersedu?
Dan hati ini dapat membuka diri?
Senja kini
Menjadi saksi bisu
Antara rasa yang tak lagi semu
Rabu, 04 Oktober 2017
Malam Tuan
Selamat malam tuan
Sudah kah kamu tersenyum hari ini?
Terasa beratkah harimu tuan?
Ah! Aku tahu perihal ini
Tak ada lagi wanita yang buat mu tersenyum bukan?
Wanita mu pergi meninggalkan mu kan?
Lalu, kamu datang tuan
Dengan senyum pilu tak karuan
Jalan pun sempoyongan
Jangan harap tuan ini akan menetap
Dia hanya melepas penat yang membekap
Jangan kira dia akan tinggal
Dia hanya datang lalu pergi meninggalkan
Tuan datang membawa luka
Dan aku obat pelipur lara
Sudah kah kamu tersenyum hari ini?
Terasa beratkah harimu tuan?
Ah! Aku tahu perihal ini
Tak ada lagi wanita yang buat mu tersenyum bukan?
Wanita mu pergi meninggalkan mu kan?
Lalu, kamu datang tuan
Dengan senyum pilu tak karuan
Jalan pun sempoyongan
Jangan harap tuan ini akan menetap
Dia hanya melepas penat yang membekap
Jangan kira dia akan tinggal
Dia hanya datang lalu pergi meninggalkan
Tuan datang membawa luka
Dan aku obat pelipur lara
Langganan:
Postingan (Atom)
Cinta atau Nafsu Semata?
Cinta atau nafsu berahi? Sorot matamu tak memancarkan rasa perduli Gerakan tangamu sangat lincah aduhai Seperti terbiasa menjamah, menera...
-
Menjadi saksi diantara bahagiamu dengannya bukanlah perihal mudah Bukannya aku tak ingin melihatmu bahagia Tapi lihat lah, ada wanita yang...